Siapa tidak kenal LeBron James, Dwane Wade, atau Carmelo Anthony. Atau yang lebih gress seperti Kevin Durant, Greg Oden, atau Al Horford. Saat ini bisa dibilang mereka adalah bintang-bintang NBA di klub masing-masing. Namun seperti pepatah mengatakan, “perjalanan 1000 mil dimulai dengan langkah pertama”, maka para bintang ini, serta para pemain lainnya, memulai langkah mereka dalam sebuah acara yang bertajuk NBA Draft.
NBA Draft merupakan saat di mana masing-masing tim berkesempatan untuk memilih pemain baru, yang belum pernah bermain di NBA sebelumnya. Biasanya mereka yang terpilih disebut “rookie” atau pendatang baru. Para pemain ini bisa berasal dari universitas, SMU, atau manca negara (luar Amerika Serikat).
Tapi yang jadi pertanyaan, tim mana yang berhak memilih terlebih dahulu ? Pembahasan tentang hal ini pertama kali dilakukan oleh para petinggi NBA di Salt Lake City pada bulan Juni 1984. Mereka mengadakan voting untuk mengadopsi suatu sistem lotere / undian di antara tim – tim yang tidak lolos Playoff untuk menentukan urutan pemilihan di putaran pertama (first round) pada NBA Draft yang dimulai tahun 1985.
Dari tahun 1966 hingga 1984, tim – tim yang mengakhiri suatu musim kompetisi dengan rekor terburuk di setiap wilayah (conference) mengadakan pengundian koin untuk menetukan siapa yang berhak memilih pertama.
Proses penentuan ini, yang diikuti oleh tim – tim yang lain, disebut dengan NBA Draft Lottery.
Pengundian (lottery) dilakukan hanya untuk menentukan tiga tim pertama, sisa tim yang tidak bermain di Playoff dipilih dengan melihat rekor musim mereka secara terbalik (tim dengan rekor terburuk berada di atas, dan sebaliknya, tim dengan rekor lebih baik berada di bawah).
Dengan tim yang sekarang berjumlah 30, maka 14 tim ini akan mengikuti pengundian untuk putaran pertama, 16 tim lainnya (yang lolos playoff) akan mengikuti berdasarkan rekor musim mereka dengan cara terbalik. Sedangkan untuk putaran kedua (second round), semua tim akan ditentukan urutannya berdasarkan rekor musim lalu mereka dengan cara terbalik, tanpa pengundian.
Sementara para general manager sibuk dengan NBA Draft Lottery-nya, para calon pemain (disebut prospect), juga tidak mau kalah. Para pemain ini diberi kesempatan untuk menunjukkan bakatnya di The NBA Pre-Draft Camp. Di kamp ini prospect menunjukkan skill bermain bola basketnya, baik dalam latihan – latihan dasar (drills) atau sebuah permainan (game). Selama di sana mereka akan diawasi secara seksama oleh para general manager NBA, pelatih, dan scout (semacam pemandu bakat) yang mencari “perhiasan” tersembunyi.
Jadi tinggal mengunggu hari – H, di mana mereka akan duduk dengan pakaian rapih di antara keluarga dan teman-temannya dalam satu meja, sambil menunggu namanya dipanggil.
“With the first pick in the NBA Draft, the Chicago Bulls select…”
Setelah memeluk keluarga dan teman-temannya, mereka berjalan menuju panggung, bersalaman dengan komisioner NBA, David Stern, dan memakai topi berlogo tim yang akan mereka bela musim depan. Sebuah mimpi yang dimulai ketika pertama kali memegang bola basket, berlatih diberbagai tempat bermain basket, telah menjadi kenyataan. Si *’gym rat‘ telah dipilih di NBA Draft. Saatnya mereka mengambil langkah kedua, ketiga, dan seterusnya, hingga mencapai jarak 1000 mil, yang mereka tentukan sendiri secara pribadi.
* gym rat : sebuah istilah bagi seorang pemain yang telah menghabiskan banyak waktunya berlatih skill bola basketnya di sebuah gym (sarana olahraga).









Komentar Terakhir