Tidak bisa asal beli pemain di NBA

10 07 2008

Real Madrid saat ini lagi mati-matian mengejar seorang jago dribble, Cristiano Ronaldo. Sejak minggu lalu, bahkan saat Piala Eropa bergulir isu kepindahan Ronaldo begitu santer terdengar, padahal Sir Alex sudah menegaskan Ronaldo “Not for sale !”. Tapi dasar klub banyak duit, makin ditantang, makin tinggi tawaran yang diajukan. Bahkan sampai dibutuhkan legitimasi seorang juara Wimbledon, Rafael Nadal, yang asli Spanyol, untuk memuluskan transaksi ini.

Bukan tentang transaksi Ronaldo yang ingin saya bahas, melainkan transaksi pemain di NBA, yang saat ini juga sedang hangat-hangatnya. Tidak seperti di sepakbola (khususnya liga-liga Eropa), di NBA tiap-tiap klub “tidak bebas” melakukan pembelian pemain. Ini di karenakan adanya batasan salary cap.

Salary cap adalah batasan jumlah gaji yang boleh diberikan oleh sebuah tim kepada seluruh pemain yang terdaftar di klub tersebut.

Untuk musim kompetisi 2008-2009 NBA mematok nilai salary cap $58.680 juta (sekitar Rp 546 milliar). Tahun lalu NBA menetapkan nilai salary cap sebesar $55.630 juta (sekitar Rp 517 milliar).

Salary cap ini menjadikan proses transaksi di NBA begitu perhitungan, karena bila terjadi kelebihan, tim wajib membayar pajak $1 setiap kelebihan $1.

Proses transaksi juga menjadi lebih menarik. Kita ambil contoh Baron Davis yang baru saja di-trade dari Golden State Warriors ke Los Angeles Clippers meninggalkan “lubang” di salary cap Warriors. Hal ini membuat Warriors memiliki kesempatan untuk mendapatkan pemain senilai tertentu yang dapat menutup “lubang” tersebut. Tentunya dengan nilai yang tidak berbeda jauh. Warriors akhirnya menjatuhkan pilihan mereka pada pemain L.A. Clippers, Corey Magette, dengan nilai kontrak $50 juta untuk lima tahun.

Perpindahan Davis ke Clippers awalnya membuat kubu Clippers, khususnya Davis, menjadi bersemangat karena akan bergabung dengan Maggette dan bintang Clippers lainnya Elton Brand. Tapi sepertinya akan “hanya ada” Davis di Clippers. Ini dikarenakan Brand yang akan di-trade ke Philadelphia 76ers (Sixers). Sixer mendapatkan “lubang” yang cukup pada salary cap-nya setelah men-trade Rodney Carney, Calvin Booth, dan hak pilih putaran pertama NBA Draft di tahun yang akan datang ke Minnesota Timberwolves. Sixers sendiri mendapatkan hak pilih putaran kedua di tahun yang akan datang.

Dari transaksi ini saya rasa yang paling diuntungkan adalah Sixers, kedua Warriors, ketiga Clippers, dan terakhir Timberwolves. Kenapa Sixers ? Ini menjadikan Sixers lebih berbahaya lagi tahun depan. Dengan bergabungnya Brand, akan memadukan pengalaman (yang dimiliki Brand) dengan semangat (yang dimiliki Andre Iguodala, Samuel Dalembert danThaddeus Young). Bisa saja mereka menyodok diurutan tiga (di bawah Boston Celtics dan Orlando Magic) posisi wilayah Timur kompetisi 2008-2009.

Kenapa Magic, bukan Detroit Pistons ? Pertama, pelatih Pistons, Flip Saunders, telah menyatakan mengundurkan diri. Kedua, usia pemain Piston sudah mulai menua. Hal ini akan menjadikan Pistons terlewati oleh tim dengan jajaran pemain yang lebih segar. Dan Magic menjadi kandidat utama. Apalagi setelah mereka berhasil memperoleh Mickael Pietrus dari Warriors untuk jangka waktu lima tahun ke depan.

Pemain asal Prancis ini akan menambah kekuatan Magic dari sisi pemain cadangan, di mana pemain utamanya tidak usah diragukan lagi kemampuannya. Dwight Howard, salah satu Center paling dominan di NBA, juga anggota tim bola basket Amerika Serikat di Olimpiade Beijing nanti. Juga ada Hedo Turkoglu yang merupakan pemain paling berkembang musim 2007-2008. Di tambah Rashard Lewis, seorang Forward yang konsisten permainannya di NBA.

Jadi jangan kaget kalau Magic bertemu Celtics di Final Wilayah Timur tahun depan ;)

Satu lagi tim yang diprediksi akan berkembang permainannya tahun depan adalah New York Knicks. Setelah mendapatkan Mike D’Antoni sebagai pelatih kepala, menggantikan Isiah Thomas, Knicks juga kini memiliki Chris Duhon, hasil trade dari Chicago Bulls. Ini setelah Knicks masih dihadapkan pada ketidak pastian sembuhnya point guard andalan mereka, Stephon Marbury, untuk musim depan.

Duhon, dengan permainannya yang konsisten selam bersama Bulls musim kemarin, diharapkan dapat mengambil alih tugas Marbury sebagai pengatur serangan dan menciptakan duet baru anyar bersama Jamal Crawford.

Tiga tim lain yang meramaikan trade adalah Indiana Pacers, Portland Trail Blazers, dan Toronto Raptors. Tiga tim ini, khususnya Pacers benar-benar ingin merombak total skuad timnya. Dari trade ini Pacers mendapatkan tujuh pemain “baru”. Yaitu T.J. Ford, Rasho Nesterovic, Maceo Baston and Roy Hibbert (rookie pilihan ke-17) dari Raptors, dengan memberikan Jermaine O’Neal and Nathan Jawai (rookie pilihan ke-41).

Dari Blazers Pacers mendapatkan Jarrett Jack, Josh McRoberts and Brandon Rush (rookie pilihan ke-13) dengan memberikan Ike Diogu and Jerryd Bayless (rookie pilihan ke-11).

Tapi yang patut ditunggu adalah duet forward yang dimiliki Raptors, yaitu O’Neal dan Chris Bosh. Kehilangan Ford tidak membuat Raptors menjadi lemah. Karena Raptors lebih memilih menggunakan Jose Calderon asal Spanyol untuk mengatur serangan mereka. Ini karena Calderon bermain apik selama kompetisi 2007-2008.

Yang jadi pertanyaan apakan O’Neal bisa bekerja sama dengan Bosh ? Atau justru perang bintang yang terjadi dalam satu tim.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar